QUARTER LIFE CRISIS, SIAPA TAKUT…
Quarter
Life Crisis atau
QLC merupakan sebuah kondisi dimana seseorang mulai mempertanyakan apa tujuan
hidupnya, dan mulai berpikir berlebihan atau over thinking terhadap suatu pilihan atau siklus dalam hidupnya. Biasanya,
QLC terjadi pada masa kedewasaan, seperti mereka yang berusia 21 tahun hingga
awal 30 tahun . Bagi sebagian besar individu, masa-masa QLC atau di usia 20
tahunan tidak harus berjalan dalam sebuah krisis , melainkan menjadi masa-masa
yang menyenangkan karena ada kesempatan
untuk mencoba segala kemungkinan guna memperoleh akan hidup yang lebih
mendalam. Namun, beberapa individu
lainnya ada yang menjalani QLC dengan perasaan panik , penuh tekanan, insecure, dan tidak bermakna (Nash dan
Murray, 2010).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Dr.
Oliver Robinson dari Universitas Greenwich, akan ada empat tahapan sebelum
seseorang merasakan QLC, yaitu perasaan terjebak dalam situasi, pikiran bahwa
perubahan mungkin terjadi, membangun kembali kehidupan yang baru, dan
mengukuhkan komitmen terkait ketertarikan, aspirasi, dan nilai-nilai yang
dipegang. Adapun aspek yang menjadi pemicu hal ini umumnya berkaitan dengan
karier, hubungan, hingga keinginan untuk memiliki properti. Tanda- tanda
seseorang mengalami QLC diantaranya adalah merasa tidak bahagia dalam menjalani
rutinitas, sering mencemaskan apa yang akan terjadi dimasa depan, merasa minder saat melihat aktivitas teman di
media sosial, mulai menyadari bahwa segala hal tidak selalu berjalan sempurna,
dan merasa tidak bahagia, walaupun memiliki segudang prestasi.
Saat sesorang mengalami QLC, ada beberapa hal
yang menjadi kedilemaan yang memicu overthingking,
seperti menentukan pilihan dalam hidup,
menentukan makna hidup,
ekspektasi dari orang lain, pertemanan yang semakin mengerucut, hingga masalah
percintaan. Hal tersebut perlu dihadapi dengan tips atau strategi yang baik
agar masa-masa QLC menjadi masa yang menyenangkan. Berikut beberapa tips yang
bisa diterapkan ketika kita sedang mengalami masa-masa QLC, antara lain:
Ø Filosofi kehidupan mengikuti arus dan takdir.
Kita perlu menerima bahwasannya memang sedang merasakan beberapa kegelisahan
hingga overthingking dan menyadari
bahwa itu semua sudah menjadi suatu hal yang wajar dan akan dialami oleh semua
individu
Ø Mulailah proaktif, sadari hal apa yang membuat
QLC muncul, cari penyebab, mulai cari
solusi yang cocok. Kita juga perlu menyadari hal apa yang sedang kita pikirkan
atau hal yang menjadi pertanyaan-pertanyaan yang selalu muncul dalam benak kita
di masa QLC ini, misalnya dengan mulai mengenali apa saja kelebihan dan
kekurangan yang ada dalam diri kita, selanjutnya dari hal tersebut kita rancang
target dalam rangka mengupgrade
kelebihan dan mengatasi kekurangan. Serta mempersiapkan hal-hal yang perlu
dicapai dalam rangka menuju masa depan yang lebih baik atau meraih cita-cita
dan tak lupa untuk berusaha semaksimal mungkin serta berdoa. Dengan ini, diri
kita akan terfokuskan pada hal – hal yang sifatnya lebih produktif daripada
hanya sekedar stuck dalam pikiran overthingking.
Ø Sabar menjalani proses, namanya perjalanan hidup, butuh waktu dan pemahaman
diri, masyarakat, serta beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dalam hal ini,
kita juga perlu menghargai yang namanya proses dan menghargai apa yang sudah
diri kita usahakan. Ketika kita hanya fokus pada keberhasilan sebuah pencapaian,
besar kemungkinan kita kurang siap untuk
menghadapi sebuah kegagalan dan tak jarang menjudge
diri sendiri. Hal ini akan berpengaruh tidak baik untuk diri sendiri. Oleh
karena itu, jalanilah proses itu dengan kesabaran dan pikiran yang positif agar
kita siap menghadapi apapun di masa yang akan datang. Kegagalan juga tidak
selamanya buruk. Hal itu justru bisa menjadi pembelajaran dan pendorong kita
untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas diri.
Jadi,
QLC adalah sebuah kondisi yang wajar dan akan dialami oleh setiap individu.
Karena banyak hal yang membuat kita overthingking,
kemungkinan besar keadaan ini membuat kita tidak nyaman bahkan gelisah yang
akan berdampak kurang baik pada aktivitas keseharian kita bahkan masa depan. Dengan
menerapkan ketiga tips tersebut, maka kita akan lebih produktif dan merasa
senang dalam menghadapi masa – masa Quarter
Life Crisis dan tidak perlu takut lagi menghadapi masa-masa ini serta tidak
hanya stuck di masa- masa overthingking yang pada akhirnya jika
hanya sekedar dipikirkan tanpa diterapkan juga kurang berarti bagi hidup kita. Sebagai
manusia, kita hanya perlu berusaha semaksimal mungkin dan berdoa, mempercayakan
semua hasilnya kepada Tuhan atau dengan kata lain yaitu bertawakal. Yakinlah,
bahwa hasil tidak akan mengkhianati usaha.
Daftar Pustaka :
“ Quarter Life Crisis : Kehidupan Dewasa Datang, Krisis pun Menghadang”.
Tirto.id. Diakses pada tanggal 14 November 2020
Beaton, Caroline. “Why Millenials Need Qoarter-Life Crisis
Robinson, Oliver.” Quarter Life Crisis : An overview of theory and
research.”
“Mengenal Guarter Life Crisis: Apa penyebab dan Tandanya”. Greatdayhr. Com. Diakses pada tanggal 14
November 2020
Semoga dapat menginspirasi
--------------------------------------
Merasa hidup gapunya tujuan
BalasHapus👍
Hapus